JAKARTA — Suasana di kawasan Selat Sunda kembali diwarnai ketegangan. **Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi**, memuntahkan material vulkanik ke udara dan mengeluarkan suara gemuruh serta dentuman yang menambah kewaspadaan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Aktivitas erupsi yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026, terus dipantau oleh petugas. Letusan gunung api yang berdiri di tengah Selat Sunda itu menjadi perhatian serius karena material abu vulkanik dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Langit di sekitar kawasan gunung api pun kembali dihiasi semburan material vulkanik. Cahaya merah dari aktivitas erupsi terlihat dari kejauhan, menghadirkan pemandangan yang sekaligus menakjubkan dan mengkhawatirkan.
Abu Vulkanik Mulai Mengganggu Penerbangan
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu vulkanik terdeteksi di sejumlah wilayah dan memasuki jalur udara yang digunakan pesawat.
Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan harus mendapat perhatian ekstra. Bandara Soekarno-Hatta bahkan sempat terdampak oleh kondisi abu vulkanik, sementara sejumlah penerbangan mengalami gangguan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana aktivitas sebuah gunung api di tengah laut dapat memberikan dampak hingga jauh dari pusat erupsi.
Warga Diminta Tidak Mendekat
Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.
Petugas mengimbau masyarakat untuk menjauhi radius **3 kilometer dari kawah aktif** serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum berasal dari sumber resmi.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada **Status Level III (Siaga)**. Pemantauan aktivitas gunung terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi secara cepat.
Bayang-Bayang Tragedi Selat Sunda
Nama Krakatau tentu tidak dapat dipisahkan dari sejarah dahsyat Selat Sunda. Ingatan masyarakat masih tertuju pada tragedi tsunami Desember 2018 yang menelan banyak korban.
Namun, masyarakat diminta tidak panik. Berdasarkan evaluasi terbaru yang diberitakan otoritas terkait, kondisi morfologi Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan indikasi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018.
Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi hal utama.
Anak Krakatau kembali bergemuruh. Dari tengah Selat Sunda, gunung api itu mengirimkan pesan bahwa alam tidak pernah benar-benar bisa diprediksi. Erupsi dapat berubah sewaktu-waktu, dan setiap perubahan kecil harus dipantau dengan serius.
Masyarakat diimbau tetap tenang, menjauhi kawasan berbahaya, serta mengikuti perkembangan informasi hanya dari **PVMBG, Badan Geologi, BMKG, dan pemerintah daerah**.











