Tampilkan postingan dengan label BAYAN IJTIMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAYAN IJTIMA. Tampilkan semua postingan

3 Jul 2025

Usaha Paling Mulia di Dunia

"Warisan Para Nabi yang Terlupakan"

Di dunia ini, manusia berlomba-lomba dalam berbagai jenis usaha. Ada yang menekuni dunia perdagangan, membangun pertanian, membuka pertokoan, menjalankan industri, hingga menyembuhkan sesama lewat bidang kesehatan. Ribuan bahkan jutaan manusia hidup dan mati dalam pusaran usaha-usaha duniawi ini.

Namun, di antara segala bentuk usaha yang tampak hebat dan megah, ada satu usaha yang jauh lebih tinggi nilainya. Usaha yang tidak hanya bernilai di mata manusia, tetapi diangkat martabatnya di sisi Allah. Usaha ini bukan sekadar kerja biasa. Ia adalah usaha para Nabi — usaha yang paling mulia, paling mahal, dan paling berat dalam sejarah umat manusia.

Usaha Para Nabi: Usaha yang Terpilih

Usaha para Nabi bukanlah usaha kebendaan. Bukan pula usaha yang bisa dijalankan oleh sembarang orang. Ini adalah usaha pilihan, sehingga Allah sendiri yang menunjuk siapa yang layak memikulnya. Jumlahnya sangat terbatas: 124.000 Nabi dari awal hingga akhir zaman. Sedikit… sangat sedikit. Bandingkan dengan jumlah petani, pedagang, dokter, raja, dan pengusaha yang tak terhitung sejak zaman Nabi Adam AS hingga hari ini.

Karena sesungguhnya, objek usaha para Nabi bukanlah benda — melainkan manusia. Sementara manusia lain sibuk memajukan teknologi, memperindah gedung, atau menambah kekayaan materi, para Nabi bekerja membangun jiwa, menyelamatkan hati, dan membentuk akhlaq.

Objek Usaha Manusia: Antara Benda dan Jiwa

Coba kita lihat usaha manusia:

Petani: menggarap tanah, menumbuhkan tanaman.

Pedagang: memperdagangkan barang-barang.

Insinyur dan teknisi: mengolah bahan mentah menjadi alat.

Teknologi: menciptakan mesin dan sistem canggih.

Tapi usaha Nabi? Usaha Nabi mengubah manusia yang rusak menjadi baik, manusia yang gelap menjadi terang, dan manusia yang sesat menjadi hamba Allah yang taat.


Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

> “Dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika daging itu baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika buruk, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.”


Inilah titik sentralnya. Jika hati manusia baik, seluruh amal dan hidupnya akan baik. Jika hati manusia rusak, maka seluruh hidupnya menjadi kerusakan yang berjalan. Kerusakan di dunia ini pun bermula dari sini — dari kerusakan hati manusia.

Kerusakan Dunia adalah Cerminan Rusaknya Manusia

Kita hidup di zaman yang disebut-sebut sebagai era kemajuan. Gedung menjulang tinggi. Mobil dan pesawat bertebaran. Ilmu pengetahuan menjangkau langit. Tapi apakah manusianya ikut maju?

Tidak. Bahkan justru merosot.


Firman Allah SWT:

> "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia."

(QS. Ar-Rum: 41)


Manusia hari ini bangga karena mampu mengubah benda tak berguna menjadi berharga. Batu menjadi gedung. Tanah menjadi kota. Sampah menjadi emas. Tapi manusia lupa memperbaiki dirinya sendiri. Hatinya mati. Akhlaqnya membusuk. Banyak manusia hari ini hanya tampak manusia dari rupa, namun perilakunya lebih kejam dari binatang.

Warisan Usaha Nabi: Tugas Kita Semua

Sungguh, usaha para Nabi tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Karena setelah beliau, tidak akan ada Nabi lagi. Tapi usahanya — usaha memperbaiki manusia — tetap harus berjalan.

Siapa yang akan meneruskan?

Kitalah, umat Nabi Muhammad SAW.


Namun kenyataannya, usaha ini telah kita tinggalkan. Kita sibuk dengan bisnis, dagangan, pekerjaan, dan mengejar dunia. Kita tinggalkan tugas memperbaiki manusia. Maka tidak heran, meski dunia semakin canggih, hati manusia justru semakin gelap.

Bangkitlah! Mulailah Kembali Usaha Para Nabi

Hari ini, dunia tidak butuh gedung lebih tinggi atau teknologi lebih mutakhir. Dunia butuh manusia-manusia yang hatinya hidup. Dunia butuh generasi yang takut pada Allah, yang cinta pada sesama, dan yang berani memperjuangkan kebenaran.

Mari kita bangkit! Mari kita mulai kembali usaha kenabian ini — memperbaiki manusia, satu demi satu. Karena di situlah letak kemuliaan kita. Bukan pada harta, jabatan, atau gelar. Tapi pada sejauh mana kita hidup untuk memperbaiki hati-hati yang telah rusak.

Pilihlah Usaha Terbaik

Dunia ini hanya sementara. Usaha kebendaan akan berakhir bersama kematian. Tapi usaha memperbaiki manusia, usaha para Nabi, akan kekal hingga akhirat.

Jadilah bagian dari usaha ini. Jadilah pewaris para Nabi.

Karena sesungguhnya, ini adalah usaha paling tinggi, paling mulia, dan paling diridhai oleh Allah SWT.


PERTEMUAN UMAT ISLAM SEDUNIA

Di tengah dunia yang penuh fitnah...

Di antara hiruk-pikuk kesibukan dan kelalaian...

Ada satu seruan suci yang menggema dari langit ke hati…

Seruan yang dahulu pernah menggetarkan hati para sahabat…

Dan hari ini… seruan itu kembali mengetuk pintu hati kita…


📅 Tanggal 28, 29, 30 November 2025

Akan terjadi sesuatu yang tak biasa.

Bukan sekadar acara…

Bukan sekadar perkumpulan…

Tapi pertemuan akbar umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Umat ini akan bersatu dalam satu suara,

satu hati,

dan satu tujuan:

menghidupkan kembali kerja para Nabi di muka bumi ini.

Wahai saudaraku…

Ini bukan tentang siapa dirimu sekarang,

tapi tentang siapa dirimu di sisi Allah.

Saat jutaan kaki melangkah di jalan-Nya,

apakah kakimu akan turut melangkah?

Saat hati-hati menangis karena rindu pada dakwah,

apakah hatimu akan tetap membisu?

📣 Takaza besar telah datang!

Sebuah amanah langit yang kini sampai ke tangan kita.

Apakah kita akan diam…

atau kita akan bangkit?

⛺ Bersiaplah!

Siapkan dirimu, hartamu, waktumu… keluarlah di jalan Allah!

Bergabunglah dalam arus besar kebangkitan ini,

bersama umat dari seluruh dunia…

Menuju ridha Allah, menuju kejayaan Islam.

🌙 InshaAllah… kita semua ambil bagian.

Siap sedia....

Jangan biarkan kesempatan ini berlalu tanpa dirimu di dalamnya.

Bersamalah dalam barisan langit…

Karena ini bukan sekadar perjalanan…

Ini adalah pengorbanan untuk akhirat.


Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…


Share:

10 Mei 2025

MUDZAKARAH KERJASAMA ANTAR DAERAH

Istima Akbar indonesia

Nizamuddin, BHAY MURSALIN

Munas : 2 - 4 Mei 2025

Hijrah dan Nusrah: Menyambung Nafas Dakwah Nabi

Dalam gelombang zaman yang terus berubah, di tengah dunia yang kian jauh dari nilai-nilai suci, para pekerja dakwah tak pernah kehilangan arah. Mereka berjalan dengan satu kompas yang pasti—usaha Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam jalan dakwah yang penuh berkah ini, terbentang dua tertib agung: khuruj (keluar di jalan Allah) dan maqomi (kerja dakwah setempat). Dua jalan yang jika dilalui dengan niat yang benar, akan menjadi sebab turunnya pertolongan dan cinta Allah SWT

Maulana Ilyas rahimahullah berkata dalam malfuzat-nya, bahwa umat Islam terbagi menjadi dua golongan: Muhajirin dan Anshor. Maka, setiap Muslim hari ini harus bertanya kepada dirinya sendiri: Di manakah aku berdiri? Apakah aku seorang yang berhijrah membawa agama, ataukah aku penolong agama?

Jika bukan Muhajirin, maka jadilah Anshor. Jika tidak menjadi keduanya, maka siapakah engkau?

Zaman ini menyimpan sebuah ironi: agama telah sempurna, namun kehidupan manusia masih jauh dari kesempurnaan itu. Ribuan masjid kosong, jutaan Muslim tidak mengenal syahadat, bahkan tidak tahu apa itu shalat. Yang tahu pun, banyak yang tidak mengamalkannya. Sementara itu, khamr dan judi menjadi kebiasaan yang menghancurkan jiwa umat.

Apakah agama kurang? Tidak. Yang kurang adalah usahanya.

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, agama tidak hanya diajarkan—ia dihidupkan. Para sahabat hidup seratus persen di atas usaha Nabi. Maka, tidak heran bila agama menyinari setiap sudut kehidupan mereka. Sedangkan kita hari ini, meninggalkan usaha itu. Kita mengeluh pada keadaan, pada lingkungan, bahkan pada sesama—padahal seharusnya kita mengeluh pada diri sendiri yang lalai dari usaha dakwah.

Jika ingin agama hidup kembali, maka hidupkanlah usaha Nabi.

Lihatlah sekeliling. Ada negeri yang masjid-masjidnya penuh amalan, namun lebih banyak yang sepi tanpa cahaya dakwah. Di satu tempat usaha agama kuat, di tempat lain hilang tanpa jejak. Maka, kerja kita bukan hanya menyiram yang telah tumbuh, tapi juga menanam di tanah tandus.

Kita susun barisan. Kita petakan: mana provinsi yang kuat, mana yang lemah. Provinsi yang kuat diberi amanah: bangkitkan yang lemah. Jika tak sanggup, maka kita minta bantuan dari negeri-negeri yang telah kokoh dengan kerja dakwah.

Inilah medan jihad kita hari ini.

Jamaah-jamaah dakwah harus dikirim bukan hanya ke tempat yang siap menerima (istiqbal), tapi juga ke tempat yang menolak, yang belum mengenal usaha agama. Jangan berharap sambutan, jangan mengharap penghormatan. Bawalah bekal sendiri, masak sendiri, bahkan beri makan orang-orang yang belum mengenal shalat. Kita datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai pelayan agama.

Fokus kerja bukan melompat-lompat, tapi mendalam dan tuntas. Satu kelompok masjid—12 hingga 25 masjid—ditangani selama 4 bulan penuh. Dari satu masjid, kita hidupkan shalat, taklim, jaulah, musyawarah. Hingga dari masjid itu lahir jamaah cash yang akan membawa cahaya ke tempat lain.

Jangan berpindah sebelum semua masjid dihidupkan. Jangan biarkan syaitan menyesatkan kita dengan langkah-langkah yang belum sempurna.

Jamaah harus bergerak terus menerus (mursalsal), tanpa putus. Sebelum satu jamaah selesai tugasnya, jamaah berikutnya sudah harus siap. Inilah sunnah Rasulullah. Inilah pula yang diamalkan oleh Sayyidina Umar. Ketika beliau lupa mengirim jamaah pengganti, para sahabat menolak pulang. Mereka berkata, "Wahai Umar, engkau lupa. Kami belum bisa pulang sebelum jamaah berikutnya datang. Itu sunnah Nabi!"

Apakah kita lebih tahu daripada para sahabat? Atau lebih paham dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jika kita ingin melihat cahaya agama kembali menyinari bumi ini, maka kita harus kembali pada jalan itu: usaha dakwah, dengan tertib Nabi, dalam semangat sahabat, dan penuh pengorbanan.

Sekarang adalah saatnya kita bertanya: di manakah kita berdiri? Sebagai Muhajirin? Sebagai Anshor? Atau sebagai penonton dalam medan perjuangan ini?

Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog