Tampilkan postingan dengan label KISAH SAHABAT Ra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH SAHABAT Ra. Tampilkan semua postingan

12 Jul 2025

Tiga Wasiat Iblis kepada Nabi Musa AS

Titik Lemah Manusia yang Sering Diabaikan

Di suatu malam yang sunyi, di tengah keheningan yang membekas hingga ke lubuk jiwa, Nabi Musa AS berdiri dalam munajatnya kepada Allah. Tapi malam itu berbeda. Dalam keadaan yang penuh misteri, datanglah sosok yang selama ini menjadi musuh abadi anak Adam: Iblis Laknatullah.

Dengan wujud yang menyeramkan namun bersahaja, ia datang bukan untuk menggoda, melainkan mengaku kalah. Ia berkata kepada Musa, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah, dan aku tahu kedudukanmu mulia di sisi-Nya. Aku ingin berterus terang… aku akan menyampaikan tiga hal penting padamu. Tiga titik lemah manusia yang sering kulalui untuk menjerumuskan anak Adam ke dalam jurang dosa.”

Maka Iblis menyampaikan tiga wasiat, tiga celah besar yang tak pernah lepas dari serangannya, yang bahkan sering kali dianggap remeh oleh manusia…


1. Saat Marah: Api yang Menyulut Neraka

> “Aku mengalir dalam tubuh manusia seperti darah.”


Begitulah pengakuan Iblis yang pertama. Dan sungguh, saat manusia marah, ia tak lagi menjadi dirinya. Akalnya terbalik, hatinya tertutup, dan lidahnya menjadi senjata pemusnah. Marah membuat seseorang bisa menghancurkan rumah tangga, persahabatan, bahkan mengucapkan kata-kata yang bisa menghapus keimanannya sendiri.

Ketika emosi membara, di situlah Iblis meniupkan api. Ia menghasut dengan bisikan, “Kau harus membalas! Jangan diam saja! Dia sudah melampaui batas!” Dan bisikan itu berubah jadi tindakan: kata-kata kasar, lemparan benda, atau bahkan tangan yang mengarah ke wajah orang lain.

Berapa banyak penyesalan yang datang terlambat? Berapa banyak orang yang menangis di penjara karena satu detik ledakan emosi? Iblis tahu, saat manusia marah, ia buta. Maka ia datang seperti angin yang tak terlihat, tapi menghancurkan segalanya.

> Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi yang dapat menahan amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


2. Saat Jihad atau Dalam Bahaya: Rasa Takut yang Mematikan Tekad


Iblis melanjutkan, “Wahai Musa, saat anak Adam melangkah ke medan jihad, aku berdiri di hadapannya. Aku bisikkan ke dalam hatinya rasa takut… tentang rumahnya, anak-anaknya, dan segala yang ia tinggalkan. Aku ingin agar ia mundur, agar tekadnya goyah…”


Subhanallah…

Betapa liciknya Iblis menggunakan kasih sayang untuk melemahkan keberanian. Ia tahu, manusia mencintai keluarganya, maka ia memelintir cinta itu menjadi belenggu. Ia munculkan bayangan anak-anak menangis, istri kesepian, rumah yang porak poranda… semua untuk menghalangi seseorang dari perjuangan di jalan Allah.

Padahal dalam sejarah para Nabi dan sahabat, mereka justru menyerahkan keluarganya kepada perlindungan Allah dan tetap melangkah gagah menegakkan kebenaran.

Iblis takut pada orang yang berani karena keberanian sejati adalah ketika rasa takut pun tunduk kepada iman.


3. Saat Bersendirian dengan Non-Mahram: Di Antara Bisikan dan Syahwat


Dan inilah wasiat ketiga, yang disampaikan dengan nada licik namun sangat serius…

> “Jika seorang laki-laki duduk berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahramnya, aku akan duduk di antara mereka berdua. Aku tiupkan rasa suka, aku nyalakan api syahwat, hingga akhirnya mereka jatuh dalam dosa.”


Iblis tak selalu datang membawa wajah menyeramkan. Kadang ia muncul dalam senyuman manis, candaan ringan, atau pertemuan singkat yang tidak disengaja. Ia tahu, ketika dua insan yang bukan mahram duduk bersama, pintu syahwat mulai terbuka. Dan dari sana, dosa bisa mengalir tanpa terasa.

Apa yang awalnya dianggap "biasa", bisa menjadi bencana. Perbincangan ringan bisa berubah jadi rayuan. Pandangan mata bisa menjadi jerat. Dan ketika keduanya tak sadar, iblis telah menyalakan api yang menghancurkan kehormatan dan iman.


Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali syaitan menjadi pihak ketiganya.” (HR. Tirmidzi)


Dan sungguh benar. Hari ini, di zaman modern, celah ini semakin besar: melalui chatting pribadi, video call, atau pertemuan dengan dalih kerja. Iblis tersenyum puas setiap kali seseorang mengabaikan batas-batas ini.


Penutup: Waspadalah di Tiga Titik Ini


Ketiga wasiat ini bukan dongeng. Ia adalah peringatan langsung dari musuh sejati manusia, yang bersumpah akan menyesatkan anak Adam sampai hari kiamat. Dan Iblis tidak akan menyerah, justru akan semakin kuat di saat manusia lengah.


> Saat marah, jangan bicara. Diam dan istighfar.


Saat takut dalam perjuangan, ingat Allah yang Maha Menjaga.

Saat ada kesempatan berduaan, segera jauhi. Jangan tunggu iman diuji.

Karena di balik celah kecil itu, Iblis menunggu, siap menyambar. Tapi siapa yang bersandar pada Allah, siapa yang menjaga hati dan niatnya, maka Iblis tak akan mampu menembus pertahanan iman.

Semoga Allah menjauhkan kita dari jebakan Iblis dan menjadikan kita orang-orang yang sadar dan waspada. Aamiin.


#ArtikelIslami #WasiatIblis #NabiMusa #DosaYangDiabaikan #JagaIman #GodaanSetan #RenunganMalam

Share:

9 Jul 2025

Ketika Tangan Terputus, Namun Cinta Itu Tetap Menggenggam

Di medan perang yang membara, di bawah terik matahari yang membakar kulit, ada satu bendera yang tak rela disentuh tanah. Bukan karena kainnya, bukan karena warnanya, tapi karena bendera itu membawa nama mulia: Muhammad Rasulullah SAW.


Dialah Ja’far bin Abi Thalib — seorang pemegang panji kebenaran, saudara sepupu Nabi, sekaligus salah satu pahlawan agung dalam sejarah Islam. Saat tangan kanannya ditebas musuh, ia tidak tumbang. Dengan tangan kirinya, ia kembali menggenggam panji. Namun ketika tangan kirinya pun ikut terputus, ia tetap tak membiarkan bendera itu jatuh. Ia dekap bendera itu dengan kedua lengannya yang tersisa.

Mengapa?

Karena di balik kain itu, ia melihat wajah kekasihnya: Nabi Muhammad SAW. Dan ia tahu, selama bendera itu masih tegak, semangat umat takkan padam.

Tubuhnya ditikam, dilukai, ditusuk—delapan puluh luka mengoyak bagian depan tubuhnya. Tak satu pun dari belakang. Karena Ja’far tidak pernah membelakangi musuh. Ia tidak pernah mundur.

Saat tubuhnya yang bersimbah darah dibaringkan oleh para sahabat, seseorang menyodorkan air kepadanya. Nafasnya tersengal. Cuaca terik. Luka menganga. Namun ia hanya tersenyum lemah dan berkata:

“Aku puasa...”

Mereka mencoba membujuk, “Berbukalah hari ini... Kau bisa berpuasa di hari lain... Lukamu sangat parah...” Tapi Ja’far tahu, ini bukan tentang haus atau lapar.

“Aku ingin berbuka di surga,” katanya pelan. Dan benar. Ia pun berbuka—bukan dengan air dan kurma, tapi dengan kenikmatan surga dan ridha Tuhannya.

Salam dari Surga

Di waktu yang hampir bersamaan, di kota Madinah yang jauh dari medan perang, Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba, beliau menengadahkan kepala ke langit, wajahnya bersinar, dan bibirnya menjawab salam:

وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Para sahabat terdiam. Mereka tahu, sesuatu yang besar sedang terjadi. Rasulullah terlibat dalam pembicaraan, namun dengan siapa?

Seseorang memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang engkau ajak bicara?”

Rasulullah menjawab lembut, “Ja’far bin Abi Thalib datang menemuiku bersama jutaan malaikat...”

Seketika suasana menjadi hening. Lalu Rasulullah melanjutkan:

“Allah mengganti kedua tangannya dengan dua buah sayap. Sekarang ia dapat terbang ke mana pun ia suka di surga.”

Namun meski surga telah menyambutnya, Ja’far tidak lupa pada kekasihnya. Ia tidak langsung tenggelam dalam kenikmatan abadi. Ia datang lebih dulu ke Madinah, menemui Nabi SAW dan menyampaikan salam. Ia ingin menatap wajah yang membuat jiwanya tenang, ingin berada dekat dengan orang yang telah membimbingnya menuju cahaya.

Ia berkata:

“Aku ingin menyampaikan salam kepada kekasihku... Aku ingin berada dekat dengan Nabiku... Aku ingin melihat Rasul-Mu yang melaluinya aku memperoleh hidayah.”

Cinta Sejati Tak Pernah Mati

Inilah cinta Ja’far kepada Rasulullah. Cinta yang menolak menyerah, cinta yang tetap menggenggam bendera meski tanpa tangan. Cinta yang tidak layu meski tubuh telah dikoyak perang. Cinta yang membuat ruhnya mendahulukan salam kepada Nabi, sebelum ia terbang tinggi bersama malaikat.

Lalu di mana kita?

Apakah kita masih memeluk cinta yang sama?

Apakah hati kita masih bergetar saat mendengar nama Muhammad SAW disebut?

Apakah kita masih rindu untuk bershalawat, untuk menjadi umat yang dirindukan Nabi?

Mari, kita hening sejenak. Tundukkan hati. Hadirkan wajah mulia itu dalam bayangan kita. Lalu ucapkan dengan sepenuh cinta:

> اللهم صلّ على سيّدنا محمد، وعلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallim.

Semoga hati kita tak pernah kehilangan rindu kepada Nabi Muhammad SAW.

Semoga tangan kita tetap kuat menggenggam panji, meski dunia mencoba melepaskannya.

Dan semoga, saat ajal menjemput, kita pun bisa berkata:

“Aku ingin berbuka... di surga.”

Share:

7 Jul 2025

“Bisikan di Samping Nabi”

IBNU ABBAS Ra MELIHAT JIBRIL As DI SAMPING NABI MUHAMMAD SAW

Pada suatu hari yang tenang di Madinah, langit biru menggantung lembut di atas kepala. Di sebuah majlis sederhana, Rasulullah SAW tengah duduk bersama beberapa sahabat… dan di antara mereka adalah seorang anak muda yang kelak dikenal sebagai lautan ilmu: Abdullah bin Abbas.

IBNU ABBAS :

Aku duduk di samping ayahku, Abbas bin Abdul Muthalib. Di hadapan kami, duduk Rasulullah. Tapi… ada sesuatu yang aneh. Seorang lelaki tampak berbisik lembut di sisi Nabi, begitu dekat… dan seolah Rasulullah berpaling dari ayahku.

ABBAS (berbisik kepada anaknya):

Wahai anakku… apakah engkau melihat bagaimana sepupuku berpaling dariku?

IBNU ABBAS :

Wahai ayahku, sungguh… di samping beliau ada seseorang yang sedang berbisik. Mungkin itulah sebabnya beliau tidak memperhatikan kita.

Keduanya pun berlalu sejenak dari majlis itu. Namun kegundahan tak dapat dibendung. Abbas memutuskan kembali menemui Rasulullah…

ABBAS :

Ya Rasulullah… aku tadi bertanya kepada anakku, Abdullah. Ia mengatakan bahwa di samping engkau ada seseorang yang sedang berbisik… benarkah ada seseorang di sana?

NABI MUHAMMAD SAW (lembut):

Wahai Abdullah… apakah engkau melihatnya?

IBNU ABBAS :

Ya, wahai Rasulullah. Aku melihatnya dengan mataku sendiri.

NABI MUHAMMAD SAW (tersenyum):

Itulah Jibril… dialah yang menyibukkan aku sehingga aku berpaling dari ayahmu.

Jibril As, Malaikat agung. Utusan dari langit yang membawa wahyu dan bimbingan. Dan anak muda itu… Abdullah… telah melihatnya dengan matanya sendiri.

NABI MUHAMMAD SAW (melanjutkan sabda):

Wahai Abdullah… ketahuilah. Engkau tidak akan mati sebelum matamu kehilangan cahaya… dan sebelum engkau diberi ilmu.

Begitulah… nubuwah itu mengalir. Bukan hanya dalam kata, tapi dalam pandangan dan takdir. Abdullah bin Abbas… seorang pemuda yang melihat malaikat… dan ditakdirkan menjadi lautan ilmu bagi umat ini.

Share:

Senyuman Seorang Badui dan Harapan Akan Ampunan Ilahi

 Dalam riuhnya kehidupan, terkadang datang seseorang dengan pertanyaan sederhana—namun mengguncang dasar pemahaman dan menyentuh relung jiwa terdalam. Kisah ini datang dari seorang lelaki Arab Badui, pria desa yang mungkin tak memiliki gelar atau keilmuan tinggi, namun hatinya jernih, tulus, dan penuh harap kepada Rabb semesta alam.


Di suatu waktu yang tenang, seorang lelaki dari pedalaman datang menghadap Rasulullah ﷺ. Langkahnya sederhana, pakaiannya tak mencolok, namun di matanya terpancar keingintahuan yang dalam. Ia berdiri di hadapan sang Nabi, dengan suara lugunya bertanya:

> “Wahai Rasulullah, siapakah yang mengurus hisab seluruh makhluk?”

Nabi ﷺ menatapnya lembut dan menjawab:

> “Allah.”

Si Badui menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali.

> “Dia seorang diri?” tanyanya lagi, matanya menyiratkan keheranan sekaligus harapan.

> “Ya,” jawab Nabi ﷺ.

Dan saat itulah, sesuatu yang tak terduga terjadi…

Si lelaki Badui itu tersenyum. Senyumnya bukan sembarang senyum—senyum itu memancarkan ketenangan, kelegaan, dan rasa bahagia yang dalam. Rasulullah ﷺ yang melihat senyum itu pun heran dan bertanya:

> “Kenapa kamu tersenyum, hai Orang Badui?”

Dan jawaban sang Badui membuat langit seolah diam, bumi menunduk dalam takjub, dan hati manusia bergetar mendengarnya:

> “Seorang yang pemurah, jika menghisab, pasti akan banyak memaafkan…!!”

Subhanallah…

Nabi ﷺ tersenyum mendengar kalimat itu. Senyum yang penuh makna, senyum yang menggambarkan persetujuan dan kekaguman atas hikmah luar biasa dari seorang lelaki sederhana.

> “Engkau benar,” sabda Nabi ﷺ,

“Tidak ada yang lebih pemurah dibandingkan Allah SWT. Dialah Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Pemaaf.”

Lalu Badui itu pun berpamitan, meninggalkan majelis Nabi ﷺ dengan hati yang lapang dan langkah yang ringan. Ia datang membawa tanya, dan pulang membawa keyakinan—bahwa Allah yang Maha Pemurah pasti akan menghisab dengan penuh ampunan.

Seketika, Nabi ﷺ menatap para sahabatnya dan berkata:

> “Ia sungguh pandai…!!”

Pelajaran yang Menggetarkan Jiwa

Dalam satu percakapan singkat itu, kita melihat sebuah kedalaman iman yang luar biasa. Seorang lelaki desa, yang mungkin dianggap awam oleh kebanyakan orang, mampu memahami satu sifat Allah yang agung: Kemurahan-Nya dalam menghisab hamba-hamba-Nya.

Allah bukan sekadar Hakim. Dia adalah Al-Ghaffar, Maha Pengampun. Dia bukan sekadar menghitung dosa, namun mencari alasan untuk mengampuni. Bahkan sebelum kita meminta, Dia telah membuka pintu taubat dan mengutus Nabi-Nya untuk mengajarkan kasih sayang, bukan sekadar hukum.

Betapa banyak dari kita yang takut kepada hari hisab, namun kisah ini mengingatkan: takutlah dengan penuh harap. Karena Allah bukan hanya adil, tapi juga penuh rahmat.

Penutup: Haraplah Kepada Yang Maha Pemurah

Wahai diri, jika seorang Badui saja bisa memahami betapa luasnya ampunan Allah, kenapa kita yang diberi ilmu dan wahyu enggan untuk berharap?

Mari kita gantungkan hati kita kepada Allah, Dzat yang menghisab dengan kasih sayang, bukan sekadar angka. Dan semoga, di hari ketika kaki gemetar, lisan kelu, dan amal kita tampak tak seberapa—kita masih bisa tersenyum seperti lelaki Badui itu, karena kita yakin:

> “Seorang yang pemurah, jika menghisab, pasti akan banyak memaafkan.”

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعفُ عنّا

Aamiin.


📌 Ingin kisah-kisah hikmah lainnya? Ikuti terus blog ini untuk inspirasi iman dan harapan di tengah dunia yang penuh ujian.

Share:

6 Jul 2025

Ketika Rasulullah Menyalatkan Seorang Penjahat: Pelajaran Tentang Fitrah dan Ampunan Ilahi"

Di Balik Jenazah yang Dianggap Berdosa, Ada Cahaya Fitrah yang Menyala

Madinah sore itu diselimuti duka. Seorang lelaki telah meninggal dunia. Ia bukan orang yang dikenal banyak kebaikannya di tengah masyarakat. Bahkan, sebagian besar mengenalnya sebagai seorang yang berbuat banyak dosa. Namun yang mengejutkan adalah—Rasulullah ﷺ sendiri hadir dalam prosesi jenazahnya.

Manusia pun bertanya-tanya. Mengapa Rasulullah ﷺ, kekasih Allah, hadir di pemakaman seorang yang mereka anggap ahli maksiat? Apa yang beliau lihat dari sosok ini, yang tak mereka lihat?

Umar bin Khaththab, Sang Penegak Kebenaran, Angkat Suara

Saat jenazah hendak dishalatkan, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sosok yang sangat mencintai kebenaran dan membenci kemunafikan, angkat suara:

> "Wahai Rasulullah, janganlah engkau shalati dia. Dia seorang penjahat!"

Ucapan Umar menggema. Di antara para sahabat, ia memang dikenal sebagai pribadi yang tegas dan keras terhadap para pelaku dosa. Dalam benaknya, bagaimana mungkin orang seperti itu pantas untuk dimuliakan dengan shalat jenazah oleh utusan Allah?

Namun, apa yang terjadi kemudian menjadi pelajaran yang mengguncang jiwa siapa pun yang mendengarnya.

Satu Kalimat yang Menyelamatkan

Rasulullah ﷺ memandang kepada para sahabat. Dengan tenang namun dalam, beliau bersabda:

> "Adakah di antara kalian yang melihatnya pernah melakukan satu amalan Islam dalam hidupnya?"

Hening. Hanya desir angin gurun yang terdengar. Tapi kemudian, dari kerumunan, seorang sahabat mengangkat suara:

> "Ya, wahai Rasulullah. Aku pernah meronda malam bersamanya di medan jihad."

Seketika suasana berubah. Satu amalan. Satu malam berjaga di jalan Allah. Itulah yang menjadi saksi bahwa fitrah keislamannya masih hidup.

Rasulullah ﷺ pun menyalatkan jenazahnya. Beliau menaburkan debu ke tubuh lelaki itu dengan tangannya sendiri. Kemudian dengan suara yang berat oleh rahmat, beliau bersabda:

> "Sahabat-sahabatmu mengira engkau adalah ahli neraka, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah ahli surga."

Fitrah: Cahaya yang Tidak Pernah Padam

Lalu, beliau berpaling kepada Umar bin Khaththab dan bersabda:

> "Janganlah kamu bertanya mengenai amalan manusia, tetapi bertanyalah tentang fitrahnya."

Sebuah kalimat yang menyentuh inti jiwa manusia. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa sehebat apa pun kita dalam menilai lahiriah seseorang, hanya Allah yang Maha Tahu isi hatinya.

Mungkin seseorang tampak buruk di mata manusia. Tapi bisa jadi ia pernah melakukan satu amalan kecil yang diterima Allah, satu amal ikhlas yang menjadi pembela di akhirat.

Dan sebaliknya, mungkin seseorang terlihat sangat saleh, namun niat dan amalannya tercemar oleh riya dan kesombongan.

Pelajaran Untuk Kita Semua

Kisah ini bukan hanya tentang si mayit. Tapi tentang kita semua. Tentang bagaimana kita sering terburu-buru menghakimi orang lain. Tentang bagaimana kita terkadang lupa bahwa Islam dibangun bukan atas dasar sempurna atau tidaknya amalan, tapi atas dasar tauhid, niat, dan fitrah.

Rasulullah ﷺ tidak membela kemaksiatan. Tapi beliau membela harapan. Beliau mengajarkan bahwa fitrah keislaman, seberapapun kecilnya, punya tempat besar di sisi Allah.

Penutup: Jangan Hakimi, Tapi Doakan

Jika kita melihat seseorang tenggelam dalam dosa, jangan langsung mencapnya sebagai penghuni neraka. Bisa jadi ia menangis di malam hari, memohon ampun yang tak pernah kita saksikan. Bisa jadi ia memiliki satu amal tersembunyi yang Allah cinta.

Dan saat seseorang telah meninggal dunia, jangan sibuk membuka aibnya. Jangan mengungkit masa lalunya. Tapi bukalah doa, dan kenang satu saja kebaikan yang pernah ia lakukan. Karena bisa jadi, satu kebaikan itu lebih berat timbangannya dari segala dosa yang kita lihat.

> "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya."

(QS. Al-Fajr: 27–28)

Share:

2 Jun 2025

YANG DIKATAKAN NABI PADA MALAM HARI KETIKA ADA TIPU DAYA JIN

Imam Ahmad dan Abu Ya'la mengeluarkan hadits dari Abi

Taiyah dia berkata: Aku bertanya kepada Abdurrahman bin

Khanbas at Tamimi, ketika beliau sudah tua, "Apakah engkau pernah bertemu Rasulullah?"


Abdurrahman berkata, "Ya."

Aku bertanya, "Apa yang dikerjakan Rasulullah pada malam hari, ketika ada tipu daya dari jin?"

Dia menjawab, "Sesungguhnya ada beberapa syetan telah turun pada malam hari menemui Rasulullah *, dari beberapa jurang dan bukit, dan di dalamnya terdapat syetan yang di tangannya membawa obor yang ada apinya, dan dia menghendaki untuk membakar wajah Rasulullah, lalu Jibril turun kepadanya seraya berkata, "Wahai Muhammad, katakanlah..!'


Nabi berkata, 'Apa yang aku katakan?'

Jibril menjawab, 'Katakanlah: aku berlindung dengan kalimat yang sempurna dari keburukan apa yang diciptakannya dan anak keturunannya dan mengada-ada, dan dari keburukan perkara yang turun dari langit dan keburukan perkara yang menghubungkan di dalamnya, dan dari keburukan fitnah malam dan siang, dan dari setiap keburukan yang datang pada malam hari, kecuali yang datang dengan membawa kebaikan. Ya Rahman.' Lalu, padamlah api-api mereka dan Allah mengusir mereka."


Mundhir berkata dalam kitab Targhib juz 3 halaman 117 dan setiap dari isnadnya adalah bagus. Dan Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Muatha' dari Yahya bin Said dengan hadits yang mursal. Imam Nasa'i meriwayatkan dari hadits Ibnu Mas'ud dengan semisalnya. Dan Ibnu Abi Syaiban mengeluarkan dari Makhul dengan maknanya yang ringkas beserta ada perbedaan di dalam lafadz ta'awud. Sebagaimana di dalam kitab Kanzul Umal juz 1 halaman 212.


Share:

13 Mei 2025

"KILATAN CAHAYA DI JARI-JARI HAMZAH BIN AMR AL-ASLAMI"

Hamzah bin Amr Al-Aslami dan Cahaya dari Langit

Malam itu, gelap begitu pekat. Langit mendung menutup seluruh cahaya, dan padang pasir di sekitar Tabuk seperti tenggelam dalam keheningan dan kabut kegelapan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baru saja memisahkan diri dari rombongan. Para sahabat berjalan pelan, kaki mereka menginjak pasir yang dingin, mata mereka menatap ke depan, namun tak satu pun yang mampu melihat arah.

Di antara mereka, berdiri seorang lelaki—Hamzah bin Amr Al-Aslami. Tak ada obor, tak ada pelita, hanya gelap dan suara langkah-langkah yang khawatir. Lalu tiba-tiba, sesuatu yang luar biasa terjadi...

Cahaya meledak dari jari-jarinya.

Bukan karena api, bukan karena suluh, tapi cahaya murni—bersinar dari ujung lima jarinya. Cahayanya lembut, namun cukup untuk menembus gulita. Para sahabat yang awalnya tercerai-berai, segera berkumpul di belakangnya, mengikuti pancaran cahaya itu seolah mengikuti bintang di tengah malam.

"Tiba-tiba jari-jariku bercahaya," kata Hamzah, mengisahkan peristiwa itu.

"Orang-orang pun berkumpul di belakangku. Tidak ada seorang pun yang celaka karena jari-jariku menerangi perjalanan mereka."

Riwayat ini bukan dongeng. Imam Bukhari menuturkannya dalam At-Tarikh-nya. Baihaqi dan Thabrani pun menyampaikan kisah yang sama. Bahkan, dalam versi lain disebutkan: “Dari benda-benda mereka tidak ada yang terjatuh.” Seolah-olah bukan hanya manusia yang dituntun cahaya itu, tapi juga harta dan perbekalan mereka diselamatkan.

Ibnu Katsir menyebut, sanad riwayat ini jayyid—kuat dan baik. Al-Haitsami menambahkan, “Para perawinya tsiqat,” meskipun ada perbedaan pandangan tentang salah seorang perawinya, Katsir bin Zaid.

Namun kisah ini tak berhenti di satu malam.

Di medan Tabuk yang keras, saat pasukan kaum muslimin menghadapi ujian berat, para munafik kabur—membawa lari unta milik Rasulullah. Ketika mereka mencapai tanjakan, barang-barang mereka terjatuh—cambuk, tali, dan perbekalan lain berserakan di tanah.

Dan di saat genting itulah, sekali lagi... lima jari Hamzah menyala

Cahayanya menuntun bukan hanya manusia, tapi juga memudahkan pengumpulan kembali barang-barang yang tercecer. Ia bukan sekadar sahabat—ia menjadi lentera yang diturunkan dari langit.

Dalam gelap, Allah SWT tunjukkan siapa yang membawa cahaya.

Dalam sunyi, Allah SWT perlihatkan siapa yang menjadi penuntun. 

Hamzah bin Amr Al-Aslami.

Jari-jarinya menjadi bukti bahwa pertolongan Allah SWT turun bagi mereka yang berjuang bersama Rasulullah SAW

Share:

BERTAWAKAL KEPADA ALLAH SWT DAN MENDUSTAKAN AHLI BATHIL

Di tengah perjalanan sejarah, saat kebenaran diuji oleh ramalan-ramalan bathil, seorang pemimpin mulia bangkit tegak... tak gentar menghadapi takhayul, dan menyerukan ketauhidan yang murni. Ia adalah... Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin.

[Suara langkah kaki di tanah dan gemuruh pasukan samar-samar]

MUSAFIR BIN AUF (cemas, memperingatkan):

Wahai Amirul Mukminin! Janganlah engkau berangkat sekarang! Tunggulah... tiga saat lagi setelah siang ini. Jika engkau melangkah sekarang, engkau dan para sahabatmu akan tertimpa bencana dan malapetaka besar! Tapi jika engkau taati saranku... kemenangan akan berpihak padamu.

ALI BIN ABI THALIB (tegas, heran):

Mengapa demikian? Apa dasar ucapanmu?

MUSAFIR (penuh keyakinan):

Ini adalah hitungan ilmu nujumku. Aku tahu... ini waktu yang berbahaya. Tapi nanti... akan mudah dan selamat.

ALI BIN ABI THALIB (dengan nada menggelegar):

Apakah engkau tahu apa yang ada di dalam perut kudaku ini?

MUSAFIR (ragu tapi tetap mencoba meyakinkan):

Jika aku mengira-ngira... tentu aku tahu.

ALI BIN ABI THALIB (dengan suara lantang):

Barangsiapa membenarkan perkataanmu, maka ia telah mendustakan Al-Qur’an!

Bukankah Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزِلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي

الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِى

نفس بأي أَرْضِ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

'Sesungguhnya Allah SWT, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' (Qs. Luqman:34)

ALI BIN ABI THALIB (mengecam dengan semangat tauhid):

Apakah kamu mengira waktu bisa memberi bencana dan keselamatan? Barangsiapa percaya padamu, maka ia telah berlepas diri dari Allah! Orang seperti itu bukan bertawakal kepada Tuhan, tapi kepada khayalanmu!

(hening sejenak)

ALI BIN ABI THALIB (dengan suara bergetar penuh doa):

Ya Allah... tidak ada yang bisa menerbangkan burung kecuali Engkau. Tidak ada kebaikan kecuali dari-Mu. Dan tiada Tuhan selain Engkau. Kami mendustakan peramal ini... dan kami akan tetap berangkat—sekarang!

[Suara derap kuda dan teriakan pasukan: "Allahu Akbar!"]

Ali pun memimpin pasukannya... berangkat di waktu yang dilarang oleh sang peramal. Dan tahukah kalian apa yang terjadi? Ia menaklukkan musuh-musuh dari Nahrawan, dan mengumandangkan kalimat yang membungkam bathil:

ALI BIN ABI THALIB (gagah dan penuh iman):

Jika kita pergi di waktu yang disarankan peramal... dan kita menang... mereka akan berkata: “Itu karena ramalannya.”

Tapi tidak! Tidak ada peramal bagi Nabi Muhammad SAW, tidak pula bagiku!

(menutup dengan penuh wibawa):

Wahai manusia...

Bertawakallah kepada Allah!

Berimanlah kepada-Nya sepenuh hati!

Karena siapa yang bergantung kepada selain-Nya... pasti akan tersesat. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah... maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.

Al kanz* (5/235)


Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Arsip Blog